Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 September 2012

Tips Membaca Bersama Anak Yang Baik

|0 komentar
Mendidik anak untuk mau membaca memang membutuhkan proses. Selain bersabar, orang tua hendaknya tidak memaksa anak untuk membaca. Ketika membaca,usahakan si anak dalam posisi melihat huruf dari kata-kata yang dibacakan dan si anak berbaring bersebelahan atau berada dalam pangkuan orang tua.

Berikut ini tips cara membaca buku bersama anak yang baik dari Ariyo, seorang pendongeng dari komunitas Reading Bugs seperti yang dikutip kompas.


* Tak perlu menghabiskan 1 buku dalam 1 waktu, utamakan pengalaman membaca cerita dengan anak. Ladeni si anak jika ia banyak bertanya dalam 1-2 halaman saja.

* Selalu jujur. "Ajakan untuk membaca bersama anak ini bisa menjadi ajang komunikasi antara orangtua dengan anak dan sebaliknya. Jujurlah jika Anda memang belum pernah membaca buku itu. Katakan, 'Mama belum pernah baca buku ini, nih. Kita baca barengan, ya?' Mengapa? Supaya anak tak punya ekspektasi berlebih Anda tahu segalanya dari buku ini," jelas Ariyo.

* Bacakan dari hati. Jangan terkesan terpaksa dan seperti enggan, apalagi malas-malasan. Membacakan dengan hati akan membuat Anda bersemangat berekspresi dan menarik.

* Posisikan anak dan Anda senyaman mungkin. Upayakan ada sentuhan kulit, dan si anak bisa melihat kata-kata yang Anda tunjuk saat membaca.

* Perkenalkan bukunya. "Bacakan judul bukunya, perlihatkan sampul buku kepada anak. Bacakan pula pihak yang bertanggungjawab atas buku tersebut, siapa pengarangnya, dan siapa ilustratornya."

* Sampul buku juga bisa jadi bahan diskusi tersendiri, misalnya dengan membahas warna busana si tokoh atau atribut lain pada sampul buku tersebut.

* Saat bercerita, penting agar si pembaca cerita tenang dan tidak tergesa-gesa. Ambillah waktu secukupnya.

* Setiap kata yang tertulis di buku, tunjuk dengan jari Anda. Saat si anak mendengar kata itu, ia akan mengasosiasikannya. Awalnya, dia akan menyadari vokal, lalu ia akan melihat huruf yang tertera, kemudian menyadari arti kata. Karena itulah, membaca untuk anak sudah bisa dilangsungkan sejak usia 0.

* Jangan menganggap remeh tanda baca titik, koma, tanda seru, maupun tanda tanya. Tunjukkan dengan intonasi atau gerak-gerik saat ada kata-kata yang menunjukkan sifat, seperti "besar", "kecil", "cepat", dan lainnya. Buat sedikit dramatisasi dari cerita.

* Jangan lupa tetap jaga kontak mata dengan anak.

* Bila ada kata-kata yang sekiranya si anak belum paham, tanyakan apakah si anak paham atau tidak.

* Posisikan buku supaya si anak bisa melihat buku dan gambar-gambarnya.

* Untuk anak prasekolah, apa yang diceritakan tidak harus sesuai buku. Jika ia tertarik hanya dengan 1 halaman saja, karena warnanya atau gambar, atau lainnya, kembangkan saja.

* Usahakan menggunakan suara/intonasi berbeda-beda, sesuai karakter dan teknik "fast, slow, pause".

* Gunakan efek drama, ada tertawa, merengek, menjerit, berbisik, cepat, lambat, stop, sedih, meraung, meringkuk, dan lainnya, sesuaikan dengan karakter dalam cerita.

* Tambahkan "body language".

Menurut Roosie Setiawan, penggagas Reading Bugs, membacakan cerita untuk anak bisa dimulai sejak trimester akhir kehamilan. Membacakan buku saat hamil bisa dilakukan dengan jenis buku apa pun yang ingin kita baca. Saat kehamilan, orangtua membacakan cerita adalah momen untuk memperkenalkan suara.

sumber

Minggu, 09 September 2012

Bagaimana Merawat Kemaluan Bayi Perempuan

|0 komentar
Vagina adalah area sensitif yang harus selalu dirawat dan dibersihkan. Daerah Miss V ini rentan akan rasa gatal, iritasi, bahkan infeksi, bahkan pada anak sekalipun.

Di bawah ini ada tips yang dikutip dari detikhealth tentang cara menjaga dan merawatnvagina anak balita Anda, terutama bagi ibu muda. Semoga bermanfaat.

1. Usap dengan cara yang benar

Ketika Anda mengganti popok, selalu bersihkan vagina balita Anda dari arah depan ke belakang untuk menghindari penyebaran bakteri yang dapat menyebabkan infeksi.

2. Periksa celah-celah

Jika Anda akan mengganti popok balita Anda setelah buang besar, jangan lupa bersihkan celah-celah di sekitar vagina dan vulva anak Anda.

Tidak perlu untuk menghapus debit keputihan dalam vulva karena itu sangat normal. Tapi jika debit ini tiba-tiba mengalami perubahan jumlah, warna, atau bau maka periksakan anak Anda ke dokter.

3. Jangan menggunakan produk yang memungkinkan iritasi pada vagina

Penggunaan wewangian beralkohol, minyak, tisu, lotion, dan krim meningkatkan risiko iritasi vagina pada anak.

Jangan membuat anak Anda mandi busa karena dapat mengiritasi dan bahkan menyebabkan infeksi saluran kemih.

4. Jangan membiarkan anak Anda berlama-lama di bak mandi dengan air bekas sabun


Banyak balita suka menghabiskan waktu di bak mandi karena menyenangkan. Jangan biarkan anak Anda duduk di dalam bak mandi dengan air yang telah kotor oleh busa sampo dan sabun yang berpotensi menyebabkan iritasi.

Setelah selesai mandi, cucilah vagina anak Anda dan bilas dengan air bersih, gunakan waslap untuk menghilangkan semua sisa sabun.

5. Jaga kelembaban vagina anak Anda

Jangan membiarkan popok atau pakaian anak dengan kondisi basah atau lembab karena dapat mengiritasi kulit sensitif di sekitar vagina. Pilihlah pakaian anak yang terbuat dari kain yang menyerap keringat karena keringat yang tertahan di area vagina juga dapat menyebabkan iritasi.

6. Periksakan kondisi vagina anak yang tidak sehat
Jika anak Anda tampak kesakitan setelah buang air kecil atau area vaginanya tampak merah, mungkin anak Anda menderita peradangan pada vagina atau vulva, yang disebut vaginitis, segera periksakan kondisi anak Anda tersebut ke dokter.


sumber: detikhealth

Kamis, 06 September 2012

Cara Mengatasi Anak yang Lagi Mengamuk

|0 komentar
Bayangkan jika anak kita mengamuk di tempat umum. Perasaan kita pasti campur aduk, seperti malu, bingung maupun kesal.

Menurut peneliti dari University of Guam, Dr. Brenna E Lorenz, kita harus memahami mengapa anak tersebut tantrum (mengamuk). Menurunya ia mengamuk karena dorongan amarah dari dalam diriny, dan kemarahan tersebut berakar dari rasa takut. Rasa takut ini kemudian digantikan oleh rasa sedih karena merasa dia tidak mendapat hal yang ia inginkan. Itu sebabnya, ia menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan (health.kompas)

Berikut ini beberapa cara yang perlu dilakukan oleh orang tua ketika anak mengamuk menurut Lorenz:
1. Tetaplah tenang dan berpikir jernih. Berfokuslah pada penyebab dia mengamuk dan abaikan perilaku buruknya, hingga akhirnya ia menyadari bahwa cara "berkomunikasi" seperti itu tidak membuahkan hasil.

2. Hindari menghukum anak. Berteriak atau bahkan memukul anak hanya akan membuat tantrumnya menjadi lebih parah. Dalam jangka panjang, perilaku ini akan ia pertahankan.

3. Jangan memberi apa yang ia inginkan. Menyerah pada keinginannya hanya akan membuatnya melegalkan aksi tantrum untuk mendapatkan yang ia inginkan.

4. Jaga agar anak tetap berada dalam keadaan aman meski sedang mengamuk.

5. Apabila memungkinkan, tempatkan dia di tempat yang khusus agar tidak mengganggu atau melukai orang lain ataupun dirinya sendiri.

6. Jangan biarkan reaksi negatif dari orang sekitar Anda memengaruhi bagaimana Anda menangani tantrum anak.

female.kompas

Waspadai Balita yang Sering Marah dan Mengamuk

|0 komentar
Perilaku marah yang sangat besar akibat keinginan tidak terpenuhi pada balita atau disebut temper tantrum sebenarnya adalah hal yang normal. Tetapi ada kondisi kemarahan yang tidak wajar dan perlu diwaspadai.

Ciri anak yang mengalami temper tantrum antara lain menangis, berteriak, sampai berguling-guling.

Temper tantrum yang berlangsung setiap hari sebaiknya diwaspadai karena kemarahan tersebut berkaitan dengan rasa frustasi balita. Beberapa penelitian mengaitkannya dengan gangguan mental.

"Tantrum yang terjadi setiap hari sebenarnya tidak normal. Hanya kurang dari 10 persen balita yang mengalaminya," kata Lauren Wakschlag, wakil presiden ilmu kedokteran sosial dari Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago, AS.

Ia menjelaskan, orangtua perlu mengetahui mana bentuk kemarahan yang normal dan tidak normal pada anak-anak sehingga secara akurat bisa diketahui kapan anak perlu bantuan profesional dan mana anak yang memang bertingkah "sesuai usianya".

Dalam penelitian yang dilakukan Wakschalg dan timnya, para peneliti menanyakan pada 1.500 orangtua yang memiliki anak usia 3-5 tahun tentang perilaku anak mereka dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut jawaban para orangtua, mayoritas balita (83,7 persen) terkadang mengalami tantrum. Tetapi hanya 8,6 persen yang setiap hari marah dan mengamuk.

Kebanyakan tantrum berlangsung sementara dan dipicu oleh keadaan yang sudah diprediksi misalnya karena anak capek atau frustasi.

Tantrum yang perlu diwaspadai adalah yang tantrum yang berlangsung lama, terjadi dengan orang dewasa bukan orangtua, serta melibatkan perilaku agresif.

Menanggapi hasil penelitian itu, Rahil Briggs, psikologi anak, mengatakan bahwa para profesional dan orangtua perlu menghitung frekuensi, kualitas, dan durasi tantrum anak.

"Anak berusia dua tahun yang tantrum selama dua menit setiap hari tidak terlalu dikhawatirkan dibandingkan dengan anak yang mengamuk seminggu sekali tetapi melakukan tindakan yang membahayakan dirinya, merusak isi rumah atau memukul adiknya," kata Briggs.

Perilaku marah ada anak juga perlu diketahui latar belakangnya. Terkadang anak berubah menjadi suka marah saat memiliki adik yang baru lahir.

sumber: health.kompas.com

Rabu, 05 September 2012

Panduan Memandikan Bayi Sesuai Usia

|0 komentar
Menjadi seorang ibu baru memang tak mudah. Banyak pelajaran baru yang harus perlahan-lahan dipelajari ibu untuk merawat sang buah hati dengan baik. Salah satu pekerjaan yang tergolong banyak ditakuti ibu baru adalah saat harus memandikan bayi. Kondisi fisik bayi yang masih ringkih membuat Anda jadi takut untuk memandikannya.

"Selain itu, ada juga ketakutan karena belum berpengalaman untuk memandikan bayi. Misalnya tidak tahu harus pakai air hangat atau air dingin, dan lain-lain," tukas dr. Atilla Dewanti, SpA dalam acara workshop Baby Spa di Graha Unilever, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Menurut Dr. Atilla ada beberapa langkah mudah yang harus dilakukan saat memandikan si kecil tergantung dari usianya.

Bayi usia 0-3 bulan
1. Untuk memandikan bayi yang baru lahir sampai berusia tiga bulan, ia menyarankan untuk menggunakan air yang hangat. "Kulit bayi baru lahir punya kulit yang sangat tipis sehingga masih sensitif. Air dingin bisa membuatnya hipotermia," tukasnya. Siapkan air hangat di dalam bak mandi.
2. Kemudian, awali dengan mengelap tubuh bayi dimulai dari bagian atas, dan kepala. Selanjutnya, mulailah untuk mencuci rambutnya. Namun, biarkan tubuh bayi tetap terbungkus dengan selembar kain flanel yang hangat.
3. Setelah bagian kepala selesai dibersihkan, lanjutkan membersihkan bagian badan bayi. Buka pembungkus flanel bayi, dan awali dengan membersihkan bagian alat kelamin bayi. Terakhir bersihkan badan, tangan dan kaki bayi.
4. Terakhir, bilas dengan seluruh tubuh bayi dengan washlap yang sudah dibasahi air hangat sampai bersih.

Bayi usia 4-11 bulan
1. Usia 4-5 bulan, bayi sebaiknya masih dimandikan dengan air hangat. Dr. Atilla menyarankan untuk bayi diperkenalkan dengan air dingin ini mulai dari usia enam bulan ke atas.
2. Awali dengan membersihkan tubuh bayi bagian depan dan belakang dengan menggunakan washlap yang sudah diberi sabun bayi. Pastikan sabun yang digunakan ini lembut dan aman bagi kulit bayi.
3. Setelah bersih dan cairan sabun hilang semua, angkat bayi dari bak mandi dan keringkan dengan handuk.

kompas.com

Kalimat yang Perlu Dihindari Ketika Berbicara dengan Anak

|0 komentar
Orang tua ketika dalam keadaan marah atau frustasi biasanya akan terlontar kata-kata yang kurang enak. Kata-kata tersebut keluar tanpa diperhitungkan. Mungkin kita beranggapan kata-kata tersebut akan menghilang dan tidak akan berpengaruh pada anak, tapi jangan salah, justru kata-kata yang memiliki dampak besar pada perkembangan emosi dan psikologis siswa. Soo, hati-hati.

Di bawah ini ada kalimat-kalimat yang perlu dihindari ketika berbicara dengan anak seperti yang dikutip dari female.kompas.

"Kamu seharusnya malu sama diri sendiri"
Kata "malu" adalah emosi yang destruktif dan seringkali memicu rasa bersalah yang sangat mendalam. Meski setiap anak bertingkah nakal, amat penting bagi mereka untuk mengerti mengapa tingkah mereka itu salah dan ia harus paham bahwa adalah hal yang wajar bagi setiap manusia untuk melakukan kesalahan, dan yang terpenting adalah kita semua belajar dari kesalahan itu.

"Karena Mama bilang begitu!"

Anak-anak merespon pada aturan saat mereka melihat alasan di baliknya. Habiskan beberapa detik untuk membantu mereka mengerti mengapa, agar mereka bisa melihat Anda sebagai figur otoritas yang pantas untuk dihormati ketimbang sebagai diktator.

"Mama enggak peduli kamu mau apa!"
Kadang, saat ada lebih dari 1 anak yang harus Anda puaskan, sulit untuk bisa memberikan mereka semua apa yang mereka mau. Kadang, saat mereka merengek di saat bersamaan karena meminta hal-hal yang berbeda, tanpa sadar, banyak orang mengatakan kata-kata semacam ini kepada anaknya. Namun, hal ini bisa membekas di pikiran anak-anak, karena mereka akan berpikir bahwa Anda tak peduli pada kebutuhannya, dan imbasnya mereka bisa tidak menghormati Anda. Ingat, menghadapi emosi mereka tidak berarti menyerah dan memenuhi permintaan mereka.

"Tante minta ciumnya, dong!"
Anda tidak akan mau mencium orang lain secara otomatis saat ada yang bilang mereka minta cium Anda, kan? Begitu pun anak-anak. Hormati wilayah personal mereka dan beri kontrol mengenai siapa yang boleh mendapat afeksi mereka.

"Kenapa kamu enggak bisa kayak..."

Membandingkan anak dengan anak lain, entah itu saudara kandungnya atau teman sekolahnya sama artinya Anda menanamkan bibit kerusakan di dalamnya. Merasa lemah dan tidak baik bisa memicu anak yang akan "meledak" di suatu waktu dan pertikaian di antara saudara. Ketimbang membuat mereka merasa rendah diri dibanding kelebihan orang lain, pujilah ia akan hal-hal baik yang ia bisa, tawarkan bantuan di area yang mereka kurang kuasai.

"Tunggu sampai Papa/Mama pulang nanti!"

Tak hanya hal ini akan memberi kesan bahwa yang mengatakan hal itu adalah orangtua yang takut kepada anaknya, tetapi juga menunjukkan bahwa Anda tidak punya kontrol terhadap situasi. Mengatakan hal ini berarti menyepelekan otoritas Anda dan pada akhirnya membuat si anak berpikir dan bertanya kepada diri sendiri, mengapa mereka mendengar Anda sejak awal?

"Kamu yang paling hebat!"
Ironis memang, tidak semua kata-kata positif itu berdampak positif. Tentu anak Anda adalah yang terbaik, tetapi terlalu banyak pujian tidak spesifik akan membuatnya jadi tidak berarti. Buatlah pujian yang spesifik.

"Enggak usah takut. Enggak kenapa-kenapa, kok!"

Kemampuan seorang anak untuk merasa aman dan mengkomunikasikan perasaannya adalah hal yang sangat penting bagi pertumbuhannya. Meski Anda pikir ini adalah sikap manis dan baik, tetapi sebenarnya kata-kata seperti ini mengimplikasikan bahwa emosi mereka tidak benar. Dengarkan dan hadapi ketakutan mereka ketimbang meremehkan dan membuat mereka mengacuhkan perasaan mereka.

"Kamu nakal sekali!"
Adalah hal yang sangat buruk untuk melabeli anak dengan "nakal/badung/bandel", karena mereka akan berpikir itu adalah jati diri mereka dan berusaha untuk membenarkan Anda. Coba tunjukkan ketidaksukaan Anda akan sikap yang tak baik, jangan anaknya.

"Cepetan, dong! Mama tinggal, Ya!"
Menanamkan isu bahwa Anda akan meninggalkannya bukan hal yang disarankan. Anak tak tahu apakah Anda benar-benar akan meninggalkannya atau tidak. Meski sebenarnya Anda hanya bercanda atau menakut-nakuti, alias ancaman kosong. Bersabarlah menunggunya dan sadari anak-anak amat mudah teralihkan pikirannya, dan cari cara lain untuk mempercepat persiapannya beranjak.

kompas

Tips Membuat Anak Mendengarkan Anda Tanpa Perlu Berteriak

|0 komentar
Pernah melihat orang tua di tempat umum yang berteriak kepada anaknya agar anaknya mendengar perintahnya? atau bahkan Anda sendiri mengalaminya? Sungguh tidak enak rasanya kan, apalagi si anak ikut-ikutan berteriak saat berbicara. Tapi di satu sisi ada anak-anak lain yang bisa diberi tahu oleh orang tuanya tanpa harus berteriak.

Di bawah ini beberapa tips membuat anak mendengarkan Anda tanpa harus berteriak yang dianggap efektif untuk berkomunikasi dengan anak tanpa harus berteriak.

Pesan "Saya"
Ada salah satu teknik komunikasi ekspresif untuk digunakan dengan anak, namanya "pesan saya". Terdapat 3 kata kunci dalam teknik ini, yakni; Saya merasa, ketika, dan karena.

Saat Anda berada dalam situasi ketika si anak meminta sesuatu sekarang juga, Anda bisa menggunakan teknik ini, jangan lupa gunakan ketiga kata kunci, contoh, "Mama (saya) merasa kesal ketika kamu mengganggu kerja Mama, karena Mama harus menyelesaikannya sebelum kita pergi ke taman bermain itu."

Teknik ini efektif karena ini memfokuskan kepada Anda dan perasaan Anda. Teknik ini tidak menyalahkan siapa pun, tetapi menjadi sebuah pernyataan sederhana dari cara pandang Anda terhadap situasi yang dihadapi.

Tekankan kepositivan
Salah satu cara berkomunikasi efektif dengan anak Anda adalah dengan menyusun kalimat secara positif. Hindari kata-kata "tidak" atau "jangan" saat bicara dengan anak. Ketimbang mengatakan, "Jangan buang mainan di lantai," lebih baik katakan, "Mainan itu tempatnya di keranjang mainan". Meski perubahannya sederhana, pemilihan kata-kata yang Anda gunakan berdampak besar pada reaksi anak dan caranya berinteraksi dengan orang lain.

Belanjar mendengarkan
Belajar dan mempraktikkan komunikasi yang reseptif adalah aspek penting untuk meningkatkan interaksi orangtua-anak. Amat penting mengenai apa yang Anda katakan (atau apa yang diekspresikan anak pada Anda) didengar dan dimengerti. Mendengarkan anak adalah bagian dari komunikasi yang reseptif, dan bisa digunakan sebagai cara untuk memahami anak.

Saat mendengarkan anak, hentikan segala bentuk aktivitas yang Anda lakukan dan berfokuslah pada anak Anda. Berlutut, duduk, atau angkat si kecil di atas bangku agar Anda dan dia berada dalam level yang setara. Saat si kecil berbicara, dengarkan sungguh-sungguh. Tanyakan pada diri Anda, "Apa yang dirasa oleh anak saya?" Lalu, ulangi apa yang Anda dengar atau apa yang Anda pikir sedang ia rasakan (kalau suaranya kurang jelas).

Kata kuncinya serupa poin pertama, "kamu, merasa, karena". Contoh, "Kamu merasa kesal karena kamu mau pergi ke taman bermain sekarang juga padahal Mama lagi bekerja." Menurut Terry Meredith, Patolog Bicara dan Bahasa dari TLM Consulting, penting untuk anak bisa mengekspresikan perasaannya lewat bahasa. Para orangtua juga bisa memberi tahu kepada anak bahwa adalah hal yang tak masalah untuk merasakan beberapa hal yang sama sekaligus.

Tindakan lebih jelas dari kata-kata
Ingat, bahwa pikiran Anda dikomunikasikan melalui tanda-tanda non-verbal. Cara Anda membawa diri bisa mengucapkan banyak hal ketimbang kata-kata.

Anda menghela napas sangat kencang, dahi mengerut, tangan mengepal, lalu tiba-tiba si kecil bertanya, "Mama marah?" lalu Anda menjawab sambil cemberut, "Enggak, Mama enggak marah". Bahasa tubuh Anda sudah jelas menunjukkan Anda marah dan kesal, tetapi Anda malah mengatakan sebaliknya. Saat tindakan dan kata-kata Anda tidak sinkron, Anda mengirimkan pesan ganda kepada anak. Anda membohongi perasaan, tetapi Anda menunjukkan apa yang sebenarnya Anda rasakan melalui tubuh Anda.

"Kebanyakan dari apa yang kita komunikasikan datang melalui komunikasi non-verbal. Pastikan bahasa non-verbal Anda sesuai dengan apa yang Anda katakan," anjur Meredith.

Teknik-teknik di atas bisa digunakan untuk mengkomunikasikan hal-hal positif kepada anak-anak Anda. Berikut ini satu tips yang bisa Anda lakukan untuk dipraktikkan setiap hari, angkat si kecil ke pangkuan Anda, lingkarkan lengan Anda di sisi kujurnya, lalu katakan, "Mama sangat bahagia saat kamu ada dekat Mama, karena Mama sayang sama kamu" dengan kata-kata atau bahasa yang lebih dimengerti Anda dan si kecil.

sumber: kompas

Selasa, 04 September 2012

Tips Untuk Wanita Hamil Dapat Tidur Nyenyak

|0 komentar
Tips untuk wanita hamil dapat tidur nyenyak merupakan tips bagi bumil yang biasanya merasa kesulitan untuk tidur dengan nyenyak dan nyaman pada malam hari. Kualitas tidur bagi bumil dapat berpengaruh kepada perkembangan janin dalam kandungan.
Dari mom.me, seperti yang dikutip dari detikhealth (03/09/12), ada 10 tips untuk ibu hamil agar dapat tidur dengan nyanyak



1. Hindari makan makanan ringan ketika larut malam

Makan camilan terlalu larut membuat ibu hamil lebih lama terjaga dan menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut. Selesaikan makan 2 jam sebelum tidur untuk mencegah refluks asam atau mulas.

2. Gunakan bantal tambahan

Gunakan bantal tambahan untuk menopang kepala dan tubuh bagian atas sampai beberapa inci. Posisi ini memungkinkan gravitasi untuk mengurangi tekanan pada diafragma dan membantu mempermudah pernapasan ketika tidur bagi wanita hamil.

3. Kurangi aktivitas sebelum pergi tidur

Jangan melakukan aktivitas berat sebelum pergi tidur seperti membersihkan rumah. Beristirahatlah sejenak dengan duduk santai dan tinggalkan buku, koran, televisi atau sumber potensial dari kebisingan atau cahaya lainnya beberapa menit sebelum tidur.

4. Tidur dengan posisi menyamping

Tidur dengan posisi menyamping dapat mengurangi jumlah tekanan pada rahim dan membantu ibu hamil bernafas lebih baik. Posisi ini juga akan membantu meringankan sakit punggung.

Menurut American Pregnancy Association, tidur menyamping di sisi kiri dapat membantu meningkatkan jumlah darah dan nutrisi yang mengalir ke bayi.

5. Luangkan waktu untuk tidur siang

Sediakan waktu untuk tidur siang setiap harinya agar tubuh tidak terlalu lelah yang dapat juga dirasakan oleh bayi dalam kandungan.

Tetapi jangan tidur siang lebih dari 30 menit karena tidur siang lebih lama akan membuat tubuh memasuki tahap tidur nyenyak, menyebabkan ibu hamil sulit untuk bangun dan akan menimbulkan perasaan grogi.

6. Jangan membawa pekerjaan ke tempat tidur

Jangan melakukan pekerjaan di tempat tidur, seperti menanggapi email dengan laptop. Tubuh perlu mengetahui bahwa tempat tidur adalah tempat khusus untuk beristirahat, sehingga Anda perlu melatihnya.

7. Lakukan hal yang membosankan jika tidak bisa tidur

Jika Anda tidak bisa tidur, jangan memaksakan diri untuk tetap berbaring di tempat tidur. Bangunlah dan lakukan sesuatu yang mungkin membuat bosan selama beberapa menit.

Cobalah untuk berjalan di sekitar rumah atau melipat pakaian. Hal ini mungkin kedengaran aneh, tetapi tugas rumah tangga yang ringan seperti melipat baju kadang-kadang teras membosankan dan membuat mengantuk.

8. Buatlah tempat tidur lebih nyaman

Tempat tidur yang nyaman adalah kunci tidur yang sukses. Sediakan bantal lebih banyak yang dapat digunakan untuk menopang tulang belakang untuk meredakan sakit punggung. Pilihlah kasur yang baik dan memberikan dukungan yang nyaman bagi tubuh agar terhindar dari sakit punggung atau sakit otot.

9. Atur suhu kamar tidur

Panas tubuh akan meningkat selama kehamilan dan membuat Anda merasa kepanasan sepanjang waktu sehingga tidak bisa tidur. Anda mungkin perlu thermostat untuk mengatur suhu yang paling nyaman untuk tidur.

10. Matikan lampu

Jaga kamar dalam keadaan tenang dan gelap. Nyalakan lampu tidur dengan cahaya yang tidak terlalu terang dan jangan hadapkan sumber cahaya ke arah Anda tidur. Cahaya buatan dapat mengganggu tidur alami dan menghambat produksi hormon melatonin, yang dapat mengacaukan siklus tidur. (detikhealth.com)

Senin, 03 September 2012

Tips Dasar Berbicara dengan Anak

|0 komentar
Pernah melihat serial Nanny 911? Acara yang berkutat dengan permasalahan keluarga dalam mendidik anak-anaknya. Bagi Anda yang sering, di bawah ini ada beberapa tips dari Nanny 911 untuk berbicara dengan anak atau yang mengalami kesulitan berbicara dengan anak dalam bukunya Nanny 911.

1. Apabila Anda ingin memastikan anak mengikuti kemauan Anda (atau saat ingin mengajarkan disiplin), turunkan tubuh Anda setinggi anak. Duduk atau berlutut, pilih yang nyaman untuk Anda.

2. Tatap matanya. Ini adalah bagian penting. Jika perlu, dengan lembut palingkan wajahnya agar ia menatap langsung kepada Anda.

3. Jika si anak sangat marah, usap punggung atau perutnya. Ini adalah bentuk usapan pengakuan. Tak perlu menarik atau memeluknya dengan paksa agar berdekatan dengannya, kecuali si anak benar-benar histeris dan perlu ditenangkan. Jika anak histeris, biarkan ia tenang dulu sebelum diajak bicara. Suruh ia mengatur napasnya.

4. Ubah nada suara agar menjadi tegas tetapi lembut. Suara Anda secara alami naik turun ketika sedang bahagia atau sedang bersenang-senang.

5. Beri kata-kata kepada anak untuk membantu mengalirnya percakapan. Bantu anak yang masih sangat kecil dengan suruhan mengikuti kata-kata Anda dan dorong ia mencoba. Untuk anak-anak yang sudah besar, Anda bisa membuka percakapan dengan ide, seperti, "Kamu sepertinya sedang kesal."

6. Ulangi kembali apa yang dikatakan anak. Ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan. Ini juga memberi Anda waktu untuk mengatur ulang pikiran Anda.

7. Jangan menyela si anak saat sedang bercerita. Biarkan ia mengutarakan apa yang ada di benaknya. Katakan padanya bahwa Anda mengerti. Ketika giliran Anda tiba, mereka akan berhenti berbicara dan mendengarkan Anda. Kalau mereka menyela Anda, katakan, "Mama mengerti, tetapi biarkan Mama selesai bicara dulu, setelah itu kami bisa bicara."

8. Biarpun hati Anda penuh gejolak, upayakan selalu tetap tenang.

kompas